Jumat, 11 Oktober 2013

Resensi Novel Sinila : Cinta dan Tragedi Kawah Sinila Pegunungan Dieng

Share it Please
Judul Novel : SINILA

Penerbit: PT elexmedia Komputindo

Pengarang: El Salman Ayashi

Jumlah Halaman: 168

Terbit:2013

Awalnya saya sempat belum paham dengan Sinila, ternyata Sinila adalah salah satu kawah di pegunungan Dieng daerah Wonosobo dan Banjarnegara Jawa Tengah. Penulis Novel ini, memadukan sastra dengan keindahan pegunungan Dieng. Dikalangan traveler pegunungan Dieng terkenal juga dengan bukit sikunir yang dikatakan negeri diatas awan. Pegunungan Dieng tidak hanya sikunir saja yang ada, ada beberpa gunung besar yaitu gunung Sindoro dan Sumbing.



Penulis El salman ayasi membuat novel ketiganya dan novel pertama tilawah cinta . Kali ini penulis menuliskan kisah cinta dan tragedi gempa bumi di kawah Sinila. Selain itu, penulis juga membandingkan keindahan pegunungan Dieng dengan Verona di italia. Penulis sungguh ciamik dalam merangkai kata.

Kisah tentang pemuda yang cacat fisiknya, Wagino, yaitu kakinya pincang sejak dia kecil tinggal bersama dengan ayahnya, pak Thoyib. Hidup dengan ayahnya tidak membuat Wagino sedih, hidup yang serba sederhana, kadang cacian makian menderpa keduanya.

Pak thoyib kemudian ditawari menggarap ladang sawah seorang yang kaya raya. Awalnya mereka keberatan, namun akhirnya menyetujui menggarap ladang kentang dari orang kaya yang sombong tersebut. Tapi, ada orang yang tidak senang dengan wagino yaitu Purnomo. Wagino yang cacat fisik ini akhirnya dipertemukan dengan kembang desa Mardiana yang juga anak tunggal dari Pak Subandi. Semenjak bertemu dengan Mardiana, Wagino berubah menjadi lebih bersemangat dalam bekerja. Begitu pula Mardiana menyambut cinta wagino,.

Masalah mulai menerpa kisah cinta mereka Pak Subandi tidak merestui hubungan anaknya karena beda status . Mardiana akan dinikahkan dengan orang lain, tapi akhirnya gagal karena Mardiana diperkosa orang. Setelah pernikahan gagal mardiana tinggal bersama pamannya karena dia diusir. Setelah melahirkan anaknya, Wagino menikah dengan Mardiana. Dan setelah itu, pagi hari tahun 1979 tragedi terjadi gempa bumi di kawah Sinila, kawah mengeluarkan gas CO2 orang-orang berlarian, banyak orang meninggal meniup gas tadi. Termasuk Wagino dan Mardiana.

Kisah ini berakhir dengan happy ending, tetapi maut memisahkan mereka saat terjadi tragedi kawah Sinila. Penulis menggabungkan kisah fiksi antara Wagino dengan kisah nyata tragedi Kawah Sinila yang merupakan bencana nasional, yang menyebabkan 149 orang meninggal dan puluhan ribu orang diungsikan. Sehingga kisah ini seakan-akan nyata dan mengalir begitu saja.

Gaya bahasa yang digunakan cukup membuat kita mengerti akan sastra, membuat tulisan dengan berbagai majas terhimpun dalam kalimat perkalimat sehingga membuahkan bahasa yang bisa dicerna.”…awan putih sering menari-nari lalu turun membelai ladang” hal 54. Karena penulis orang jawa tengah, banyak disisipkan beberapa bahasa jawa. Namun, tidak terlalu banyak hanya untuk menekankan saja.”pripun?” hal 26.

Nilai sosial yang didapat dari novel ini adalah tidak seseorang itu meremehkan orang yang miskin dan cacat karena mereka juga manusia. Selain itu mengungkapkan bagaimana perjuangan kisah cinta seorang pria yang cacat dengan seorang gadis anak orang kaya yang berparas ayu. Namun sayangnya penulis membuat cinta mereka harus berhujung zina.” Saya memang berbohong kalau saya diperkosa, Paklek, itu cuma akal-akalan kami saja…” halaman 138.

Sedangkan nilai agama, jika seorang yang sudah terlanjur zina maka harus nya dia bertobat agar Allah mengampuninya. Namun disini penulis, kurang memberi pernyataan tobat dari keduanya. Disini penulis memberitahukan bahwa orang yang terlanjur berzina, kemudian wanitanya hamil tidak boleh dinikahi sebelum dia melahirkan.”sebab tuntunan agama tidak membolehkan menikah dalam keadaan hamil” hal 140. Ironisnya sekarang orang yang terlanjur hamil, keburu nikah tidak mengindahkan aturan karena keburu malu terhadap tetangga, padahal dalam ajaran Islam menunggu bayi itu lahir baru boleh menikah.

Novel ini lebih menceritakan kisah cinta antara dua orang yang miskin dan kaya namun di iringi dengan kisah-kisah perjuangan ayah dan anak dan tragedi kawah Sinila desa Kepucukan dan desa lainnya. Bagi penggemar novel percintaan, bisa buat tambahan bacaan.

Selain itu, bagi penggemar traveler bisa dijadikan salah satu referensi tempat wisata yang akan dikunjungi yaitu pegunungan Dieng, dengan bukit sikunir yang konon sudah terdengar keindahannya. Negeri diatas awan. Ada pula kawah-kawah lain yang ada di dataran tinggi Dieng. Sedangkan untuk pembaca pemula bisa menambah pengetahuan tentang Dieng dan mengikuti alur cinta mereka berdua yang kadang juga ditemukan di era sekarang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Developed by Suciana | Designed By Templateism | Seo Blogger Templates